Karakteristik Fisik dan Daya Dukung CBR Tanah Dasar sebagai Penyebab Amblas Jalan Poros Toraja–Luwu Km 27 Desa Salubua
DOI:
https://doi.org/10.47178/hrazqb29Keywords:
Tanah amblas, Klasifikasi tanah, Kepadatan relatif, CBR, Tanah dasar jalanAbstract
Badan jalan Poros Toraja–Luwu Km 27 di Desa Salubua, Kecamatan Basse Sangtempe, amblas sepanjang 58,5 m. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik fisik dan daya dukung tanah dasar yang menjadi penyebab amblas. Sampel dari dua titik diuji kadar air, berat isi, berat jenis, batas Atterberg, gradasi, pemadatan standar, dan CBR laboratorium pada contoh tanah asli (tiga titik) dan terpadatkan (10, 25, dan 60 tumbukan). Seluruh data dihitung ulang secara konsisten dengan hubungan fase tanah. Tanah tergolong pasir berlanau–berlempung (SM/SC; A-2-7) dengan butiran halus 29,5%, LL 41,9%, PI 16,0%, dan batas susut 24,8%. Kadar air asli 39,8% dengan berat isi kering 0,88 g/cm³ dan angka pori sekitar 2,0, sehingga kepadatan relatif lapangan hanya 64% terhadap berat isi kering maksimum 1,36 g/cm³ pada kadar air optimum 31,3%. CBR tanah asli hanya 1,1–2,0% (modulus resilien sekitar 11–21 MPa), sedangkan pemadatan menaikkan CBR menjadi 10,9–13,4%. Kepadatan rendah dan kadar air di atas optimum menjadi penyebab utama amblas, sehingga perbaikan tanah dasar dengan pemadatan terkontrol dan pengendalian air diperlukan.
References
[1] Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Jakarta, Indonesia: Sekretariat Negara, 2004.
[2] B. M. Das dan K. Sobhan, Principles of Geotechnical Engineering, ed. 9. Boston, MA, USA: Cengage Learning, 2018.
[3] B. M. Das, N. Endah, dan I. B. Mochtar, Mekanika Tanah (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis), jilid 2. Jakarta, Indonesia: Erlangga, 1995.
[4] R. A. Rahma, M. Jamal, dan H. Sutanto, “Analisis stabilitas lereng pada ruas jalan Samarinda–Balikpapan KM.24 dengan alternatif perkuatan dinding bronjong dan geotekstil,” Teknologi Sipil: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 3, no. 2, pp. 19–27, 2019, doi: 10.30872/ts.v3i2.3255.
[5] J. E. Bowles dan J. K. Hainim, Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknis Tanah (Mekanika Tanah), ed. 2. Jakarta, Indonesia: Erlangga, 1984.
[6] H. B. Seed, R. J. Woodward, dan R. Lundgren, “Prediction of swelling potential for compacted clays,” Journal of the Soil Mechanics and Foundations Division, ASCE, vol. 88, no. SM3, pp. 53–87, 1962.
[7] Direktorat Jenderal Bina Marga, Manual Desain Perkerasan Jalan (Revisi Juni 2017), No. 04/SE/Db/2017. Jakarta, Indonesia: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017.
[8] ASTM International, ASTM D2487-17: Standard Practice for Classification of Soils for Engineering Purposes (Unified Soil Classification System). West Conshohocken, PA, USA: ASTM International, 2017.
[9] AASHTO, M 145-91: Standard Specification for Classification of Soils and Soil-Aggregate Mixtures for Highway Construction Purposes. Washington, DC, USA: American Association of State Highway and Transportation Officials, 2012.
[10] Badan Standardisasi Nasional, SNI 1744:2012 Metode Uji CBR Laboratorium. Jakarta, Indonesia: BSN, 2012.
[11] AASHTO, AASHTO Guide for Design of Pavement Structures. Washington, DC, USA: American Association of State Highway and Transportation Officials, 1993.
[12] R. Zelby, A. Hakam, dan Andriani, “Analisis stabilitas dan perbandingan metode perbaikan longsor ruas Jalan Barung-Barung Belantai KM. 45+400, Pesisir Selatan,” Jurnal Ilmiah Rekayasa Sipil, vol. 22, no. 1, pp. 74–83, 2025, doi: 10.30630/jirs.v22i1.1761.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Fisca Della Buttu, Abdias Tandy Arrang, Marthen Tangkeallo

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







