Daro-daro dalam Ritus Rambu Solo’: Analisis Fenomenologis, Sosiologis, dan Reinterpretasi Teologis di Masyarakat Toraja Bori

Daro-daro in the Rambu Solo’ Ritual: A Phenomenological, Sociological, and Theological Reinterpretation in the Torajan Bori’ Community

Authors

  • Ferayanti Sannang Gereja Toraja Jemaat Pantan, Tana Toraja, Indonesia
  • Susanti Embong Bulan Sekolah Tinggi Teologi William Carey, Medan, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.0302/rvmpd680

Keywords:

symbolic anthropology, ritual meaning, cultural symbols, social cohesion, contextual theology, Toraja culture, antropologi simbolik, makna ritual, simbol budaya, kohesi sosial, teologi kontekstual, budaya Toraja

Abstract

This study examines the symbolic meaning of Daro-daro within the Rambu Solo’ ritual of the Toraja community, particularly in Bori’, and its sociological and theological implications. Employing a qualitative phenomenological approach, this research explores how local communities interpret and experience Daro-daro as part of their cultural and religious practices. The findings reveal that Daro-daro is understood as paningoan bombo, a symbolic medium through which relationships between the living and the deceased are perceived to continue. In this context, death is not interpreted as a rupture of relational ties but as a transformation into a symbolic and spiritual continuity. From a sociological perspective, Daro-daro functions as a mechanism for maintaining social cohesion, reinforcing collective memory, and strengthening intergenerational family bonds within the Toraja cultural structure. It also reflects social stratification and symbolic capital embedded in ritual practices. However, from a theological standpoint, the belief that Daro-daro mediates interaction with ancestral spirits raises critical tensions with Christian doctrine, which affirms that human relationships are ultimately grounded in God and not mediated through symbolic communication with the dead. In response, this study proposes a contextual theological reinterpretation of Daro-daro as a symbol of remembrance, familial love, and eschatological hope, rather than a medium of spiritual interaction. This reinterpretation allows the preservation of cultural identity while ensuring theological coherence. The study contributes to interdisciplinary dialogue between symbolic anthropology, sociology of religion, and contextual theology, offering a constructive framework for understanding and transforming local cultural symbols in contemporary faith contexts.

 

Penelitian ini mengkaji makna simbolik Daro-daro dalam ritus Rambu Solo’ pada masyarakat Toraja, khususnya di Bori’, serta implikasi sosiologis dan teologisnya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana masyarakat memahami dan menghayati Daro-daro sebagai bagian dari praktik budaya dan religius mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Daro-daro dimaknai sebagai paningoan bombo, yaitu media simbolik yang menghadirkan keberlanjutan relasi antara yang hidup dan yang telah meninggal. Dalam konteks ini, kematian tidak dipahami sebagai pemutusan relasi, melainkan sebagai transformasi menuju keberlanjutan simbolik dan spiritual. Secara sosiologis, Daro-daro berfungsi sebagai mekanisme pemeliharaan kohesi sosial, penguatan memori kolektif, serta pengikat relasi keluarga lintas generasi dalam struktur budaya masyarakat Toraja. Simbol ini juga merefleksikan stratifikasi sosial dan kapital simbolik dalam praktik ritual. Namun, secara teologis, pemaknaan Daro-daro sebagai media relasi dengan arwah menimbulkan ketegangan dengan iman Kristen yang menegaskan bahwa relasi manusia berakar pada Allah dan tidak dimediasi melalui simbol kepada yang telah meninggal. Sebagai respons, penelitian ini menawarkan reinterpretasi teologis kontekstual yang memaknai Daro-daro sebagai simbol ingatan, kasih keluarga, dan pengharapan eskatologis, bukan sebagai sarana komunikasi spiritual. Pendekatan ini memungkinkan pelestarian identitas budaya sekaligus menjaga keselarasan dengan iman Kristen. Penelitian ini berkontribusi pada dialog interdisipliner antara antropologi simbolik, sosiologi agama, dan teologi kontekstual dalam memahami transformasi makna simbol budaya.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alkitab. Edisi Terjemahan Baru 1. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1974.

Embon, Debyanti. “Sistem Simbol dalam Upacara Adat Toraja Rambu Solo’: Kajian Semiotik.” Jurnal Bahasa dan Sastra 4, no. 7 (2019): 1–10.

Faot, Agustinus, Jonathan Octavianus, dan Juanda Juanda. “Kematian Bukan Akhir dari Segalanya.” Jurnal Teologi dan Pelayanan Kerusso 2, no. 2 (2017): 15–30. https://doi.org/10.33856/kerusso.v2i2.87.

Frederik, Hanny. “Konsep Persatuan dengan Kematian dan Kebangkitan Kristus Berdasarkan Roma 6:1–14.” Jurnal Jaffray 13, no. 2 (2015): 215–248. https://dx.doi.org/10.25278/jj71.v13i2.179.

Geertz, Clifford. Kebudayaan & Agama. Yogyakarta: Kanisius, 1992.

Hutasoit, Irvan. “Membaca Ulang Injil dan Kebudayaan dalam Tradisi Batak Toba: Re-Reading the Gospel and Culture in the Batak Toba Tradition.” Journal of Religious and Socio-Cultural 4, no. 1 (2023): 65–101. https://doi.org/10.46362/jrsc.v4i1.91.

Kobong, Th., dan Erich von Marthin Elraphoma Hutahaean. Injil dan Tongkonan: Inkarnasi, Kontekstualisasi, Transformasi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

Ledo, Samyul, dan Sigit Ani Saputra. “Kajian Teologis Hanya Yesus Jalan Keselamatan dalam Yohanes 14:1–14 dan Aplikasinya bagi Orang Percaya.” Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani 1, no. 1 (2021): 75–95. https://doi.org/10.33991/miktab.v1i1.279.

Lembang, Bert T. Reinterpretasi dan Reaktualisasi Budaya Toraja: Refleksi Seabad Kekristenan Masuk Toraja. Yogyakarta: Gunung Sopai, 2012.

Lura, Hans. “Gender Structure dalam Efesus 5:22–23, 1 Korintus 14:34–35 dan Perjumpaannya dengan Budaya Toraja.” KINAA: Jurnal Teologi 2, no. 1 (2017): 1–12. https://doi.org/10.0302/kinaa.v2i1.867.

Lura, Hans. “Keadilan, Gender dan Keluarga.” KINAA: Jurnal Teologi 4, no. 2 (2019): 1–15. https://doi.org/10.0302/kinaa.v4i2.1048.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2018.

Moustakas, Clark. Phenomenological Research Methods. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 1994.

Padda’, Seniati. Wawancara oleh penulis. Bori’, 1 Mei 2022.

Pasalli’, Silwanus. Wawancara oleh penulis. Lembang Bori’ Ranteletok, 10 Mei 2022.

Peursen, C. A. van, dan Dick Hartoko. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius, 2000.

Sarunan, Emilia. Wawancara oleh penulis. Lembang Bori’ Ranteletok, 10 Mei 2022.

Silambi’, Marten. Wawancara oleh penulis. Lembang Bori’ Ranteletok, 10 Mei 2022.

Sinaga, Lamria. “Communal Ecclesiology: The Church Responds to the Reality of Migration in Batak Land.” QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies 5, no. 1 (2023): 1–17. https://doi.org/10.46362/quaerens.v5i1.147.

Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2017.

Tangdilintin, L. T. Toraja dan Kebudayaannya. Tana Toraja: Yayasan Lepongan Bulan, 1981.

Tangirerung, Johana R. Berteologi melalui Simbol-Simbol: Upaya Mengungkap Makna Injil dalam Ukiran Toraja. 2017.

Timotius, Timotius, Ofriana Sni, Johanes Lilik Susanto, Wahyu Bintoro, dan Setia Dewi. “Menyingkap Perbedaan Mendasar: Evangelikalisme dan Fundamentalisme—Tidak Serupa Meskipun Terkait.” Indonesian Journal of Religious 5, no. 2 (2023): 109–126. https://doi.org/10.46362/ijr.v5i2.23.

Published

2024-11-30

How to Cite

Daro-daro dalam Ritus Rambu Solo’: Analisis Fenomenologis, Sosiologis, dan Reinterpretasi Teologis di Masyarakat Toraja Bori: Daro-daro in the Rambu Solo’ Ritual: A Phenomenological, Sociological, and Theological Reinterpretation in the Torajan Bori’ Community. (2024). KINAA: Jurnal Teologi, 9(2), 132-146. https://doi.org/10.0302/rvmpd680

Similar Articles

31-40 of 73

You may also start an advanced similarity search for this article.