Persepsi Masyarakat dan Tingkat Kebisingan Akibat Penambangan Batu Gunung di Ba’lele, Kelurahan Mentirotiku, Kabupaten Toraja Utara

Authors

  • Juniardi Patandinan
  • Reni Oktaviani Tarru
  • Harni Eirene Tarru

DOI:

https://doi.org/10.47178/bct6aa69

Keywords:

Tambang Batuan, Dampak Lingkungan, Persepsi Masyarakat, Kebisingan, Baku Mutu

Abstract

Penambangan batu gunung (bahan galian golongan C) di Ba’lele, Kelurahan Mentirotiku, berada sekitar 1 km dari pusat Kota Rantepao dan berdekatan dengan permukiman. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak penambangan terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan menurut persepsi masyarakat, menilai upaya penanggulangan dampak, serta mengukur tingkat kebisingan alat tambang dan membandingkannya dengan baku mutu. Data diperoleh melalui kuesioner terhadap 60 responden yang dipilih secara acak sederhana dan pengukuran kebisingan dengan sound level meter selama 10 menit pada setiap alat. Instrumen 16 butir dinyatakan valid (r hitung 0,315–0,842 > 0,254) dan reliabel (Cronbach’s Alpha 0,843). Dampak lingkungan merupakan dampak yang paling dirasakan, terutama peningkatan debu (61,7% responden menyatakan cukup hingga sangat banyak) dan kebisingan (33,3%). Dampak sosial berada pada tingkat rendah hingga sedang, sedangkan manfaat ekonomi hampir tidak dirasakan karena 75,0% responden menyatakan tidak ada peluang kerja. Upaya penanggulangan dinilai belum memadai; 95,0% responden menyatakan pengawasan pemerintah tidak pernah atau jarang dilakukan. Tingkat kebisingan ekuivalen (Leq) excavator breaker, excavator, dan dump truck masing-masing 92,3; 75,0; dan 71,2 dBA. Estimasi atenuasi sumber titik menunjukkan kebisingan breaker masih melampaui baku mutu permukiman 55 dBA hingga jarak sekitar 147 m. Pengendalian debu secara rutin, pengaturan jam operasi breaker, pemasangan penghalang kebisingan, dan peningkatan pengawasan diperlukan untuk menekan dampak terhadap masyarakat.

References

[1] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Jakarta, Indonesia, 2009.

[2] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Jakarta, Indonesia, 2020.

[3] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Jakarta, Indonesia, 2010.

[4] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta, Indonesia, 2009.

[5] R. Barri dan A. Patiung, “Analisis dampak tambang golongan C terhadap lingkungan,” Tugas Akhir, Program Studi Teknik Sipil, Universitas Kristen Indonesia Toraja, 2015.

[6] E. B. Toding, “Analisa dampak penambangan bahan galian C,” Tugas Akhir, Program Studi Teknik Sipil, Universitas Kristen Indonesia Toraja, 2019.

[7] World Health Organization, Environmental Noise Guidelines for the European Region. Copenhagen, Denmark: WHO Regional Office for Europe, 2018.

[8] M. Basner, W. Babisch, A. Davis, M. Brink, C. Clark, S. Janssen, dan S. Stansfeld, “Auditory and non-auditory effects of noise on health,” The Lancet, vol. 383, no. 9925, pp. 1325–1332, 2014, doi: 10.1016/S0140-6736(13)61613-X.

[9] Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan. Jakarta, Indonesia, 1996.

[10] Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. Jakarta, Indonesia, 2018.

[11] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2019.

[12] M. Koo dan S.-W. Yang, “Likert-type scale,” Encyclopedia, vol. 5, no. 1, p. 18, 2025, doi: 10.3390/encyclopedia5010018.

[13] Badan Standardisasi Nasional, SNI 7231:2009 Metoda Pengukuran Intensitas Kebisingan di Tempat Kerja. Jakarta, Indonesia: BSN, 2009.

[14] A. T. Sombolinggi dan R. T. Bua’, Perangkat Lunak Teknik Sipil Transportasi: Analisis Data Transportasi Menggunakan SPSS. Arsy Media, 2026.

[15] L. J. Cronbach, “Coefficient alpha and the internal structure of tests,” Psychometrika, vol. 16, no. 3, pp. 297–334, 1951.

[16] ISO 9613-2:1996 Acoustics – Attenuation of Sound during Propagation Outdoors – Part 2: General Method of Calculation. Geneva, Switzerland: International Organization for Standardization, 1996.

Published

2025-10-15

How to Cite

[1]
“Persepsi Masyarakat dan Tingkat Kebisingan Akibat Penambangan Batu Gunung di Ba’lele, Kelurahan Mentirotiku, Kabupaten Toraja Utara”, dynamicsaint, vol. 10, no. 2, pp. 44–51, Oct. 2025, doi: 10.47178/bct6aa69.

Similar Articles

1-10 of 52

You may also start an advanced similarity search for this article.

Most read articles by the same author(s)