Suatu Upaya Kontekstualisasi Makna Penderitaan Yesus di Toraja
DOI:
https://doi.org/10.0302/kinaa.v4i1.1029Keywords:
Konstekstualisasi, Penderitaan, Yesus, TorajaAbstract
Pandangan masyarakat Toraja tentang kematian, berdeda dengan masyarakat pada umumnya. Ketika seseorang mati dan belum dilaksanakan ritusnya ia di pandang belum mati tapi sakit (to makula = orang yang sakit). Nanti ketika dilaksanakan ritusnya yaitu dilakukan aluk rambu solo’ barulah ia diangap mati. Dalam pelaksanaan ritus tersebut, semakin banya hewan yaitu Babi dan Kerbau yang dikurbankan semakin mempercepat si mati untuk mengalami proses inkarnasi menjadi dewa (membali puang). Kepercayaan pada Yesus sebagai To Membali Puang merupakan pengakuan akan pentingnya menyadari kepelbagaian budaya, yang pada giliranya memerlukan kehadrian teologi lokal. Keanekaragaman konteks yang tentunya pula menghasilkan keanekaragaman persoalan, tentu tak lagi mungkin dijawab dengan sebuah teologi yang bersifat umum. Karena itu, gereja harus bisa melupakan cita-cita akan keseragaman teologi dan sebaliknya menerima kehadiran teologi yang bersifat umum. Karena itu, gereja harus bisa melupakan cita-cita akan keseragaman teologi dan sebaliknya menerima kehadiran teologi yang beraneka ragam. Tak ada satu pun yang dapat dinyatakan benar untuk seluruh tempat dan waktu, melainkan yang ada ialah teologi yang punya makna pada satu tempat atau waktu tertentu. Budaya dan perilaku hidup masyarakat Toraja tak mungkin dinilai dengan obyektif jika dilakukan dari perspektif budaya barat. Disamping itu, kehidupan masyarakat Toraja akan sulit untuk didinamisir dengan nilai dan pandangan hidup yang asing di telinga mereka. Jika hal semacam ini dipaksakan, maka teologi tersebut tidak akan pernah menajdi milik masyarakat Toraja. Karena itu, tulisan ini merupakan jawaban terhadap kontekstualisasi teologi.




