Antara Dukacita dan Ma’pesta: Analisis Teologis-Sosiologis terhadap Penggunaan Istilah ‘Ma’pesta dalam Rambu Solo'

Between Mourning and Ma’pesta: A Theological-Sociological Analysis of the Use of the Term Ma’pesta (Feast) in the Rambu Solo’ Ritual

Authors

  • Purwanti Hardjo Universitas Kristen Indonesia Toraja, Toraja Utara, Indonesia
  • Imron Widjaja Gereja Bethel Indonesia Jemaat Graha Pena, Jakarta, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.0302/2vrp3269

Keywords:

analisis teologis, bahasa budaya, cultural language, mourning ritual, perspektif sosiologis, Rambu Solo’, ritual dukacita, sociological perspective, theological analysis

Abstract

This study examines the use of the term “feast” within the context of the Rambu Solo’ ritual among the Torajan community from theological and sociological perspectives. In Torajan culture, Rambu solo’ is a traditional funeral ceremony that reflects complex interactions between ritual practices, social structures, and belief systems. Despite its function as a mourning ritual, the ceremony is often referred to as a “feast” due to its elaborate processes, communal gatherings, and material expressions of honor. This linguistic phenomenon raises a conceptual tension between the meanings of mourning and celebration, particularly when viewed through a theological lens that associates death with grief, reflection, and existential awareness. This research employs a qualitative approach based on library research, drawing from theological texts, sociological theories, and previous studies on Torajan culture. The analysis focuses on interpreting the symbolic and social meanings embedded in the use of the term “feast,” as well as examining the cultural and religious transformations influencing this terminology. The findings indicate that the use of the term “feast” is shaped by social practices, cultural habits, and the visible grandeur of the ritual rather than its essential meaning as a space of mourning. Furthermore, the study argues that this linguistic shift may obscure the theological significance of death and communal solidarity in grief. Therefore, this study proposes a reconstruction of meaning by reintroducing culturally rooted terms such as tongkon, which more accurately represent the act of communal presence and empathy in mourning. This reconstruction highlights the importance of aligning language, culture, and theological understanding within contemporary Torajan society.

 

Penelitian ini mengkaji penggunaan istilah “ma’pesta” dalam konteks upacara Rambu Solo’ pada masyarakat Toraja dari perspektif teologis dan sosiologis. Dalam budaya Toraja, Rambu solo’ merupakan ritual kematian yang sarat makna simbolik, sosial, dan religius, serta mencerminkan relasi antara penghormatan kepada leluhur dan solidaritas komunitas. Meskipun berfungsi sebagai ritus dukacita, praktik ini kerap disebut sebagai “ma’pesta” karena kemeriahan pelaksanaan, kehadiran banyak orang, serta ekspresi material yang tampak dalam bentuk penyembelihan hewan dan penyediaan makanan. Fenomena kebahasaan ini menimbulkan ketegangan makna antara konsep dukacita dan perayaan, khususnya jika dilihat dalam perspektif teologis yang menempatkan kematian sebagai momen refleksi, kesedihan, dan kesadaran eksistensial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan menganalisis teks-teks teologis, literatur sosiologis, serta kajian terdahulu tentang budaya Toraja. Analisis dilakukan untuk menafsirkan makna simbolik dan sosial dari penggunaan istilah “ma’pesta”, sekaligus menelusuri faktor-faktor budaya dan perubahan sosial yang memengaruhi penggunaan istilah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan istilah “ma’pesta” lebih dipengaruhi oleh praktik sosial dan tampilan eksternal ritual daripada makna esensialnya sebagai ruang dukacita. Selain itu, pergeseran makna ini berpotensi mengaburkan pemahaman teologis tentang kematian dan nilai kebersamaan dalam penderitaan. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan rekonstruksi makna melalui penggunaan istilah yang lebih kontekstual, seperti tongkon, yang merepresentasikan kehadiran, empati, dan solidaritas dalam dukacita. Dengan demikian, integrasi antara bahasa, budaya, dan teologi menjadi penting dalam membangun pemahaman yang lebih utuh dalam masyarakat Toraja kontemporer.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdul Azis Said. Simbolisme Unsur Virtual Rumah Tradisional Toraja. Yogyakarta: Ombak, 2024.

Abdulsyani. Sosiologi: Skematika, Teori dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara, 2017.

Andarias Kabanga. Manusia Mati Seutuhnya. Yogyakarta: Media Pressindo, 2022.

Anggraeni, Anggun Sri, and Gusti Anindya Putri. “Makna Upacara Adat Pemakaman Rambu Solo di Tana Toraja.” Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya 3, no. 1 (2020): 72–81. https://doi.org/10.30998/vh.v3i1.920.

Anggreni, Intan, and Bobby Kurnia Putrawan. “Kajian Latar Belakang Sejarah Dan Budaya: Makna Teks Dalam Konteks Hermeneutika Alkitab.” Journal of Religious and Socio-Cultural 3, no. 1 (2022): 18–29. https://doi.org/10.46362/jrsc.v3i1.57.

Ante, Defllins, and Sutrisno Sutrisno. “Ceng Beng Dalam Perspektif Kristen: Menyelaraskan Iman Dan Tradisi Dalam Budaya Tionghoa.” Indonesian Journal of Religious 7, no. 2 (2024): 131–148. https://doi.org/10.46362/ijr.v8i2.40.

Badil, Dr., Dildar Muhammad, Zeenaf Aslam, Kashif Khan, Anny Ashiq, and Uzma Bibi. “The Phenomenology Qualitative Research Inquiry: A Review Paper.” Pakistan Journal of Health Sciences 4, no. 3 (2023): 9–13. https://doi.org/10.54393/pjhs.v4i03.626.

Banne, Sri Herawati P. S., and Tomi Supriyanto. “Pendidikan Yang Misioner-Afirmatif: Sebuah Penelusuran Konsep Dan Praksis Pendidikan Lembaga Penginjilan GZB Di Toraja.” EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani 6, no. 1 (2022): 101–117. https://doi.org/10.33991/epigraphe.v6i1.361.

Basas, Allan A. "Inculturation: An Ongoing Drama of Faith-Culture Dialogue". Scientia - The International Journal on the Liberal Arts 9, no. 1. (2020): 92-108. https://www.academia.edu/97490549/Inculturation_An_Ongoing_Drama_of_Faith_Culture_Dialogue.

Berger, Peter L., and Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality. New York, NY: Anchor Books, 2020.

Bert Tallulembang. Reinterprestasi dan Reaktualisasi Budaya Toraja. Yogyakarta: Gunung Sopai, 2022.

Film Walking Dead Tomate. Disutradarai oleh Tim Ekadi Katili. Cinekadi Picture dan Max Anderson, 2022.

Iglesias, Enrique. “Analisis Teologis Makna Ibadah Dalam Tradisi Ma’paundi Dalam Budaya Toraja.” MURAI: Jurnal Papua Teologi Konstekstual 5, no. 2 (2024): 86–94. https://doi.org/10.58983/jmurai.v5i2.133.

Ignatius Loyola Madya Utama. Makna Keselamatan Dalam Perspektif Agama-Agama. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2014.

James A. Lola. “Iman Kristen dan Budaya Popular.” VISIO DEI: Jurnal Teologi Kristen 1, no. 1 (2019): 101–121. https://doi.org/10.35909/visiodei.v1i1.7.

Jan Kalenda, and Steve Schwartzhoff. “Cultural Sociology: A New Approach to the Study of the History of Education.” Procedia - Social and Behavioral Sciences 174 (2015): 3055–3062. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.01.1098.

Mohammad Natsir Sitonda. Toraja dan Warisan Dunia. Makassar: Pustaka Refleksi, 2017.

Pangumbahas, Recky, and Oey Natanael Winanto. “Membaca Kembali Pandangan Moralitas Postmodernism untuk Konteks Pendidikan Kristen.” QUAERENS: Journal of Theology and Christianity Studies 3, no. 1 (2021): 73–84. https://doi.org/10.46362/quaerens.v3i1.33.

Paganggi, Roswita Rini, Husain Hamka, and Asmirah. “Pergeseran Makna Dalam Pelaksanaan Upacara Adat Rambu solo’ Pada Masyarakat Toraja.” Jurnal Sosiologi Kontemporer 1, no. 1 (2021): 9–20. https://doi.org/10.56326/jsk.v1i1.1159.

Pongdatu, Laurenzia Putri Salo, and Arthur Huwae. “Religiosity and Family Resilience Who Perform Rambu Solo’ Ritual in Toraja”. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Humaniora 10, no. 1 (2024):1-13. https://doi.org/10.30738/sosio.v10i1.14736.

Ra’ba Bara’ Tiku, Seruni. “Analisis Pemikiran Paul F. Knitter Untuk Mengatasi Masalah Kemiskinan Di Toraja.” Indonesian Journal of Religious 6, no. 2 (2023): 113–128. https://doi.org/10.46362/ijr.v6i2.39.

Sukirman, Anna Sutrisna. “Upacara Adat Rambu Solo Suku Tana Toraja: Perspektif Akuntansi Syariah.” Prosiding Simposium Nasional Akuntansi Vokasi 9, no. 1 (2021): 283–296. https://proceeding.isas.or.id/index.php/snav/article/view/938.

Tarnoki, Cecilia, and Katheryne Puentes. “Something for Everyone: A Review of Qualitative Inquiry and Research Design.” The Qualitative Report 24, no. 12 (2019): 3122–3124. https://doi.org/10.46743/2160-3715/2019.4294.

Yakob, Elies. “Pesta Pelaksanaan Rambu Solo' Menurut Hukum Adat Di Kecamatan Bangkelekila Kabupaten Toraja Utara.” Sarjana thesis, Universitas Tadulako, 2022. https://repository.untad.ac.id/id/eprint/135569.

Published

2024-11-30

How to Cite

Antara Dukacita dan Ma’pesta: Analisis Teologis-Sosiologis terhadap Penggunaan Istilah ‘Ma’pesta dalam Rambu Solo’: Between Mourning and Ma’pesta: A Theological-Sociological Analysis of the Use of the Term Ma’pesta (Feast) in the Rambu Solo’ Ritual. (2024). KINAA: Jurnal Teologi, 9(2), 147-163. https://doi.org/10.0302/2vrp3269

Similar Articles

11-20 of 55

You may also start an advanced similarity search for this article.