Penguatan Kapasitas Petani Kentang Melalui Focus Group Discussion di Desa Bulubalea Kabupaten Gowa dan Desa Bontolojong Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan

Authors

  • Dewi Marwati Nuryanti Universitas Andi Djemma Palopo
  • Erwina Erwina Universitas Andi Djemma Palopo
  • Niken Nur Kasim Universitas Sulawesi Barat
  • Sulham Sulham Enesis Grup
  • Muhammad Nur Udpa Pusat Pengembangan SDM Regional Makassar

DOI:

https://doi.org/10.47178/kv9f6g68

Keywords:

kentang, Focus Group Discussion, penguatan kapasitas, kultur jaringan, stek umbi

Abstract

Ketergantungan petani kentang di Sulawesi Selatan terhadap bibit dari Pulau Jawa menjadi permasalahan mendasar yang menghambat efisiensi dan kemandirian usaha tani kentang di daerah tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama 30 orang petani kentang di Desa Bulubalea, Kabupaten Gowa, dan Desa Bontolojong, Kabupaten Bantaeng, pada bulan Oktober 2025, dengan tujuan menguatkan kapasitas petani dalam memahami kondisi usaha tani mereka dan menumbuhkan kesadaran akan kebutuhan sumber pembibitan kentang lokal yang berkualitas dan terjangkau di Sulawesi Selatan. Melalui FGD, terungkap bahwa seluruh petani masih bergantung pada bibit asal Jawa dengan harga Rp 3.000–4.000 per biji tergantung ukuran, belum termasuk ongkos kirim, sehingga biaya perbenihan menjadi komponen terbesar yang memberatkan petani berskala kecil. Petani juga menghadapi ketidakstabilan harga jual dan keterbatasan akses pasar. Melalui sesi sosialisasi dalam FGD, petani diperkenalkan dengan teknologi pembibitan kentang melalui kultur jaringan dan stek umbi sebagai alternatif pembibitan lokal yang berpotensi menekan biaya produksi secara signifikan. Petani merespons dengan sangat antusias dan secara spontan mengidentifikasi kemandirian benih sebagai prioritas utama yang dibutuhkan. Kegiatan ini berhasil menguatkan kapasitas petani dalam memahami urgensi pengembangan sistem perbenihan kentang lokal di Sulawesi Selatan sebagai langkah strategis menuju usaha tani yang lebih mandiri dan berdaya saing.

References

Adiyoga, W., & Nurmalinda. (2015). Analisis konjoin preferensi petani terhadap atribut varietas kentang, bawang merah, dan cabai merah. Jurnal Hortikultura, 22(3), 292–302. https://doi.org/10.21082/jhort.v22n3.2015

Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik tanaman sayuran dan buah-buahan semusim Indonesia 2022. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.

Basuki, R. S. (2019). Sistem perbenihan kentang di Indonesia: Permasalahan dan strategi pengembangannya. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 38(2), 75–84. https://doi.org/10.21082/jp3.v38n2.2019

Brennan, M. A., & Israel, G. D. (2008). The power of community. Community Development, 39(1), 82–97. https://doi.org/10.1080/15575330809489671

Ezward, C., Idris, I., Haitami, A., & Kirana, U. (2018). Peningkatan pengetahuan dan kemampuan petani melalui penyuluhan dan pelatihan pertanian. Jurnal Agro Indragiri, 3(1), 1–7.

Fuglie, K., & Marder, J. (2015). Potato research and development in developing countries. International Potato Center (CIP).

Hamdani, J. S. (2016). Pengaruh jenis mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil tiga kultivar kentang yang ditanam di dataran medium. Jurnal Agronomi Indonesia, 37(1), 14–20.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2022). Rencana strategis Kementerian Pertanian 2020–2024. Kementerian Pertanian RI.

Kusmana, R., & Sofiari, E. (2018). Teknologi perbanyakan bibit kentang dengan stek batang mini untuk mendukung penyediaan benih sumber. Buletin Plasma Nutfah, 17(2), 88–95. https://doi.org/10.21082/blpn.v17n2.2018

Matanari, J. (2020). Peran focus group discussion dalam pemberdayaan masyarakat petani di daerah terpencil. Jurnal Penyuluhan, 16(1), 45–55. https://doi.org/10.25015/penyuluhan.v16i1.28438

Pangestuti, R., & Moeljopawiro, S. (2017). Pengembangan sistem perbenihan kentang berbasis komunitas untuk mendukung kemandirian benih di Indonesia. Jurnal Hortikultura, 27(1), 103–114. https://doi.org/10.21082/jhort.v27n1.2017

Prabaningrum, L., Moekasan, T. K., & Adiyoga, W. (2019). Identifikasi permasalahan dan kebutuhan teknologi budidaya kentang di sentra produksi. Jurnal Hortikultura, 24(4), 351–360. https://doi.org/10.21082/jhort.v24n4.2019

Rauf, A. W., & Lestari, M. S. (2016). Pemanfaatan komoditas pangan lokal sebagai sumber pangan alternatif di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian, 28(2), 67–74.

Setiadi. (2019). Kentang: Varietas dan pembudidayaan (Edisi Revisi). Penebar Swadaya.

Sunarjono, H. (2015). Bertanam 36 jenis sayuran. Penebar Swadaya.

Wattimena, G. A. (2016). Pengembangan propagul kentang elite bebas patogen untuk mendukung industri perbenihan kentang nasional. Jurnal AgroBiogen, 6(1), 1–10. https://doi.org/10.21082/jbio.v6n1.2016

Published

2026-06-28

How to Cite

Penguatan Kapasitas Petani Kentang Melalui Focus Group Discussion di Desa Bulubalea Kabupaten Gowa dan Desa Bontolojong Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. (2026). Tongkonan: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(1), 55-68. https://doi.org/10.47178/kv9f6g68